Kalimat sederhana itu pecah di tengah Apel Siaga Relawan di Medan, dan berubah
menjadi pelukan penuh makna antara saya dan seorang relawan bernama Ardi. Bukan
pelukan biasa, tapi pelukan seorang pejuang kemanusiaan yang baru saja lolos
dari maut.
Ardi, relawan PKS Medan Sunggal, hanyut terseret banjir deras saat membagikan
makanan kepada pengungsi di atap Masjid Jami’. Ia terbawa arus hingga ke sungai,
bertahan semalaman dalam gelap dan dingin, berpegangan pada pohon bersama sesama
korban, menunggu pagi dengan doa dan harapan.
Namun kisah itu tidak berhenti di sana. Setelah banjir surut dan ia selamat
kembali ke rumah, Ardi tidak memilih beristirahat. Seusai mandi dan berganti
pakaian, ia berjalan kaki 17 kilometer kembali ke posko, lalu kembali turun ke
lapangan, melanjutkan tugas membantu warga terdampak banjir.
Inilah wajah relawan kemanusiaan: bekerja tanpa sorotan, berjuang tanpa pamrih, dan tetap melangkah meski lelah dan luka.
Semoga Allah SWT menjaga setiap relawan,
membalas keikhlasan mereka dengan pahala terbaik, dan menjadikan kisah seperti
Ardi sebagai pengingat bahwa kemanusiaan selalu hidup di hati orang-orang yang
tulus.
